Tampilkan postingan dengan label Ajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

MOKSA

0 komentar


Dalam agama Hindu kita percaya adanya Panca Srada yaitu lima keyakinan yang terdiri dari, Brahman, Atman, Karma Pala, Reinkarnasi, dan Moksa. Moksa berasal dari bahasa sansekreta dari akar kata "MUC" yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani yang langgeng. Jagaditha dapat juga disebut dengan Bukti artinya membina kebahagiaan, kemakmuran kehidupan masyarakat dan negara.
Jadi Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) dan akan mengalami Sat, Cit, Ananda (kebenaran, kesadaran, kebahagian).
Dalam kehidupan kita saat ini juga dapat untuk mencapai moksa yang disebut dengan Jiwan Mukti (Moksa semasih hidup), bukan berarti moksa hanya dapat dicapai dan dirasakan setelah meninggal dunia, dalam kehidupan sekarangpun kita dapat merasakan moksa yaitu kebebesan asal persyaratan2 moksa dilakukan, jadi kita mencapai moksa tidak menunggu waktu sampai meninggal.
Mencapai Moksa.
Untuk mencapai moksa seseorang harus mempunyai persyaratan2 tertentu sehingga proses mencapai moksa dapat berjalan sesuai dengan norma2 ajaran agama Hindu. Dalam mencapai Moksa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
1. Dharma.
Dalam ajaran agama Hindu yang terdapat dalam Catur Parusanta dijelaskan bahwa tujuan dari kehidupan adalah bagaimana untuk menegakkan Dharma, setiap tindakan harus berdasarkan kebenaran tidak ada dharma yang lebih tinggi dari kebenaran. Dalam Bagawad Gita disebutkan bahwa Dharma dan Kebenaran adalah nafas kehidupan. Krisna dalam wejangannya kepada Arjuna mengatakan bahwa dimana ada Dharma, disana ada Kebajikan dan Kesucian, dimana Kewajiban dan Kebenaran dipatuhi disana ada kemenangan. Orang yang melindungi dharma akan dilindungi oleh dharma maka selalu tempuhlah kehidupan yang suci dan terhormat.
Dalam zaman edan saat ini semua orang mengabaikan kebenaran, orang sudah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, krisis moral sudah meraja lela dimana mana, kebenaran dan keadilan sudah langka, orang sudah tidak mengenal budaya malu, semua perbuatannya dianggap sudah benar dan normal. Sebenarnya Dharma tidak pernah berubah, Dharma telah ada pada zaman dahulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang, ada sepanjang zaman tetapi setiap zaman mempunyai karateristik lain2 dalam melakukan latihan kerohanian (spiritual). Untuk Kerta Yuga latihan kerohanian yang baik adalah melakukan Meditasi, untuk Treta Yuga latihan kerochanian yang baik adalah dengan melakukan Yadnya atau kurban, untuk Dwapara latihan kerochanian yang baik adalah dengan melakukan Yoga yaitu upacara pemujaan dan untuk Kali Yuga latihan kerochanian yang baik adalah dengan melakukan Nama Smarana yaitu mengulang ngulang atau menyebut nama Tuhan yang suci.
2. Pendekatan kepada Yang Widhi Wasa
Untuk mendekatkan diri kehadapan Yang Widhi Wasa ada beberapa cara yang dilakukan Umat Hindu yaitu cara Darana (menetapkan cipta), Dhyana (memusatkan cipta), dan Semadi (mengheningkan cipta). Dengan melakukan latihan rochani , terutama dengan penyelidikan bathin, akan dapat menyadari kesatuan dan menikmati sifat Tuhan yang selalu ada dalam diri kita. Apabila sifat2 Tuhan sudah melekat dalam diri kita maka kita sudah dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala permohonan kita akan dikabulkan dan kita selalu dapat perlindungan dan keselamatan.
3. Kesucian.
Untuk memperoleh pengetahuan suci, dan menghayati Yang Widhi Wasa dalam keberagaman dinyatakan dalam doa Upanishad yang termasyur : Asatoma Satgamaya, Tamasoma Jyothir Gamaya, Mrityorma Amritan Gamaya yang artinya, Tuntunanlah kami dari yang palsu ke yang sejati, tuntunlah kami dari yang gelap ke yang terang, tuntunlah kami dari kematian ke kekekalan.
Setiap kita melakukan kegiatan2, kita biasakan untuk memohon tuntunan kehadapan Yang Widhi Wasa agar kita selamat dan selalu dilindungi. Pekerjaan apapun kita lakukan, apabila kita bekerja demi Tuhan dan dipersembahkan kehadapan Yang Widhi Wasa, maka pekerjaan tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi. Dengan menghubungkan pekerjaan tersebut dengan Yang Widhi Wasa, maka ia menjadi suci dan mempunyai kemampuan dan nilai yang tinggi.
Tujuan dari kehidupan kita adalah agar atman terbebas dari triguna dan menyatu dengan Para atman. Didalam Weda disebut yaitu Moksartham Jaga Dhitaya Ca Iti Dharmah yang artinya adalah tujuan agama (Dharma) kita adalah untuk mencapai moksa (moksa artham) dan kesejahteraan umat manusia (jagadhita).
Ciri2 orang yang telah mencapai jiwatman mukti adalah.
1. Selalu mendapat ketenangan lahir maupun bathin.
2. Tidak terpengaruh dengan suasana suka maupun duka.
3. Tidak terikat dengan keduniawian.
4. Tidak mementingkan diri sendiri, selalu mementingkan orang lain (masyarakat banyak).

Untuk mencapai moksa juga mempunyai tingkatan2 tergantung dari karma (perbuatannya) selama hidupnya apakah sudah sesuai dengan ajaran2 agama Hindu. Tingkatan2 seseorang yang telah mencapai moksa dapat dikatagorikan sebagai berikut.
1. Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rochani dengan meninggalkan mayat disebut Moksa.
2. Apabila seorang yang sudah mencapai kebebasan rochani dengan tidak meninggalkan mayat tetapi meninggalkan bekas2 misalnya abu, tulang disebut Adi Moksa.
3. Apabila seorang yang telah mencapi kebebasan rochani yang tidak meninggalkan mayat serta tidak membekas disebut Parana Moksa.
Catur Marga.
Untuk mencapai Moksa beberapa cara yang dapat ditempuh sesuai dengan bakat dan bidang yang digeluti saat ini yang disebut dengan Catur Marga ada juga yang menyebutkan dengan Catur Yoga yaitu empat jalan yang ditempuh untuk mencapai Moksa. Adapun keempat Catur Marga terdiri dari :
1. Jnana Marga Yoga.
Pada saat sekarang peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat menentukan dalam pembangunan nasional disamping ilmu pengetahuan lainnya. Setiap negara akan berusaha sekuat tenaga dengan menggunakan resource yang ada untuk berkompetisi dalam bidang IPTEK, siapa yang menguasai IPTEK maka merekalah yang menguasai dunia ini. Kata Jnana artinya adalah kebijaksanaan filsafat atau pengetahuan, Yoga berasal dari urat kata YUJ yang artinya menghubungkan diri.
Jadi Janana Marga Yoga artinyga jalan untuk mencapai persatuan atau pertemuan antara Atman dengan Paramatman (Tuhan) berdasarkan atas pengetahuan (kebijaksanaan filsafat) terutama mengenai kebenaran dan pembebasan diri dari ikatan duniawi (maya). Dalam kehidupan ini kita memilih profesi pekerjaan kita sesuai dengan bakat yang diberikan oleh Sangyang Widhi Wasa dan latar belakang pendidikan kita atau pekerjaan yang sangat menarik yang kita geluti saat ini, sebab bakat yang diberikan oleh Tuhan adalah anugrah yang sangat tinggi nilainya yang merupakan hasil Karma kita dahulu sebelum kita Reinkarnasi sebagai manusia. Apabila kita ingin mengabdi kan diri dibidang ilmu pengetahuan, perlu diperhatikan adalah ilmu pengetahuan yang dapat membantu umat manusia dalam mengatasi kehidupan ini.
Sebagai ilustrasi dapat disampaikan sebagai berikut.
Pada zaman sekarang banyak manusia mengalami kesulitan dalam mengatasi penyakit, banyak penyakit yang belum diketemukan obatnya seperti AID, lever hati, tumor, kanker dan lain lainnya. Perkembangan ilmu kedokteran tidak dapat mengejar penyakit 2 yang timbul dalam masyarakat, peralatan rumah sakit masih menggunakan peralatan tradisional sehingga angka kematian di negara kita sampai sekarang masih cukup tinggi.
Para dokter yang bergerak dibidang kesehatan harus terus menerus melakukan penelitian atau Research And Development (R&D) sehingga semua kesulitan masyarakat dapat diatasi dengan baik dan murah dengan diketemukan obat2 yang mujarab. Seseorang yang mempunyai profesi dalam bidang kedokteran ini disebut dengan Jnana Marga Yoga dimana ilmu yang diabdikan demi kepentingan umat manusia.
2. Karma Marga Yoga.
Cara atau jalan untuk mencapai moksa (bersatunya Atman dengan Brahman), dengan selalu berbuat baik, tetapi tidak mengharapkan balasan atau hasilnya untuk kepentingan diri sendiri (amerih sukaning awah) disebut Karma Marga Yoga. Dalam Karma Marga Yoga, kita sebagai umat Hindu setiap tindak tanduk kita melakukan karya harus demi kepentingan masyarakat banyak dan jangan ada suatu keinginan untuk menikmati hasilnya, sebab kalau kita selalu berpikir hasilnya akan timbul keterikatan2, kalau keterikatan2 telah tumbuh dalam jiwa kita, maka ketenangan akan menjauh dari kenyataan, sehingga jiwa kita akan diracuni oleh Sad Ripu yaitu enam musuh utama manusia yang terdiri dari Kama, Lobha, Mada, Moha,Kroda, Matsarya (napsu, loba, kemarahan, kemabukan, kebingungan,iri hati). Didalam Bhagawad Gita disebutkan bahwa berulang kali Krisna berkata kepada Arjuna, lakukan tugasmu, lakukanlah pekerjaan yang benar tetapi jangan ingin menikmati hasil pekerjaan itu. Tujuan Krisna memberikan wejangan kepada Arjuna agar jangan meli
hat hasil nya adalah, kita sebagai pelaku benar2 dalam bekerja semua perbuatan kita yaitu karma diubah menjadi Yoga sehingga kegiatan tersebut membawa kita menuju persatuan dengan Tuhan maka ini disebut dengan Karma Marga Yoga. Apabila seseorang sudah dapat melakukan pekerjaan tanpa melihat hasilnya maka ia akan menjadi orang yang benar2 bijaksana (Stithaprajna), yang tidak terpengaruh dengan keadaan suka dan duka atau gembira dan sedih.

Perbuatan adalah karma , setiap orang lahir dari karma, hidup dalam karma dan mati dalam karma, karma sumber dari baik dan buruk dosa atau kebajikan, laba atau rugi, kebahagiaan atau kesedihan, sebenarnya karmalah penyebab kelahiran, maka karma dalam kehidupan merupakan masalah yang sangat penting.
Sebagai ilustrasi dapat diceritrakan sebagai berikut.
Diumpamakan badan kita adalah sebuah jam dinding, dan nafas kita adalah pegasnya yang menyebabkan jarum jam dapat berputar, dan baterynya adalah tenaga manusia. Tanpa nafas dan tenaga, manusia tidak dapat berbuat apa apa yaitu berkarma, maka perbuatan (karma) sangat tergantung dengan nafas (pegas) dan tenaga (batery). Dengan kekuatan batery (tenaga) maka jarum jam yang terdiri dari tiga jarum yaitu jarum yang paling panjang disebut jarum detik, jarum yang menengah disebut dengan jarum menit dan jarum yang paling pendek disebut jarum jam. Ketiga jarum akan berputar dengan kecepatan yang berbeda beda dan saling ketergantungan satu sama lainnya, tetapi masing2 jarum akan berputar sesuai dengan fungsinya.
Apabila jarum detik telah berputar 60 kali maka jarum menit akan mengikuti berputar hanya sekali, demikian saat jarum menit telah berputar 60 kali maka jarum jam akan berputar sekali demikian seterusnya dengan menggunakan kelipatan 60. Setiap gerakan jarum detik kita umpakan adalah karma (perbuatan), untuk gerakan jarum menit kita umpamakan adalah perasaan dan untuk gerakan jarum jam kita umpamakan adalah kebahagiaan. Untuk mencapai suatu kebahagiaan yang terus menerus kita harus selalu berbuat (berkarma) baik, setiap tindakan kita selalu tanamkan kebaikan yang menyebabkan perasaan kita mendapat rangsangan kebaikan tersebut sehingga kita merasa senang.
Apabila perasaan kita telah mencapai kesenangan terus menerus akibat kita selalu berbuat (karma) baik terhadap seseorang, maka menyebabkan kita akan mencapai kebahagiaan, sebab karma (perbuatan), perasaan, dan kebahagian saling keterkaitan seperti ketiga jarum jam berputar saling ketergantungan satu sama lainnya.
Makin banyak kita ber karma baik maka perasaan dan kebahagian akan selalu mengikuti seperti perputaran jarum jam, apabila jarum detik tidak bergerak jangan harap jarum menit bergerak apalagi jarum jam Kebahagian akan dicapai dalam kehidupan ini apabila kita selalu berkarma baik
3. Bakti Marga Yoga.
Jalan atau cara untuk mencapai moksa atau kebebasan, yaitu bersatunya Atman dengan Tuhan dengan melakukan sujud bakti kehadapan Yang Widhi Wasa. Bakti adalah cinta yang mendalam kepada Tuhan, bersifat tanpa pamerih sedikitpun dan tanpa keinginan duniawi apapun juga. Bagi umat Hindu untuk melakukan Bakti Marga Yoga dengan menyanyikan nama2 Tuhan secara ber ulang2, bergaul dengan orang2 Suci yang mempunyai bakti, konsentrasi pikiran setiap saat kepada Tuhan, dan jalan Bakti ini adalah yang paling mudah dilakukan. Seperti setiap hari kita melakukan Trisandya dengan mengucapkan Gayatri Mantra tiga kali sehari.
Untuk menanamkan rasa Bakti kehadapan Yang Widhi Wasa , sebaiknya anak mulai kecil dididik mengucapkan Mantra Gayatri dengan memberi penjelasan makna dan arti masing2 bait, sehingga meresap dalam pikiran mereka dan dapat menuntun ajaran2 kebenaran (Dharma). Kalau belum hafal sebaiknya dibaca saja dan usahakan dengan suara yang lembut sehingga benar2 meresap dalam hati sanubari kita dan bayangkan Brahman ada dalam pikiran dan renungkan secara terus menerus selama melagukan Gayatri Mantra Dengan selalu melantunkan Gayatri Mantra terus menerus , maka kita seolah olah menyatu dengan Tuhan atau bersatunya Atman dengan Tuhan., sehingga kita mendapat ketenangan, kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan.Dalam melakukan Bakti Marga Yoga terutama upacara piodalan di Pura2 diseluruh Indonesia, masyarakat Hindu sudah mempunyai cara upacara bakti (persembahyangan) secara baku, dimanapun kita melakukan persembahyangan sudah tersusun sama, dan Mantra Gayatri selalu dilantunkan sebelum persembahyangan dimulai.
Pada saat Pendeta melakukan upacara piodalan juga dinyanyikan lagu2 warga sari sebagai pemujaan kehadapan Yang Widhi Wasa yang mempunya makna adalah agar sebelum persembahyangan dimulai kita sudah mulai rasakan menyatunya Atman dengan Brahman.
4. Raja Marga Yoga.
Jalan untuk mencapai moksa menurut agama Hindu dapat dilakukan melalui Tapa, Brata, Yoga, dan Semadi. Untuk mengendalikan diri dengan melakukan latihan2 untuk mengatasi Sadripu disebut dengan Tapa, Brata, sebab apabila Sadripu kita sudah dapat kendalikan maka jalan mencapai moksa lebih mudah. Disamping mengendalikan Sad Ripu, kita juga melakukan latihan2 untuk dapat menyatukan Atman dengan Tuhan yang disebut dengan Yoga dan Semadi, dengan melakukan konsentrasi yang setepat tepatnya dalam ketenangan dan suasana syandu sempurna sehingga kita dapat menyatu dengan Tuhan.
Sebagai ilustrasi dapat diceritrakan sebagai berikut.
Didalam suatu pesraman di Hutan rimba ada seorang resi yang bernama Resi Suka yang memberikan dharma wecana kepada murid2nya yaitu yoga, semadi diantara murid2 nya ada seorang raja bernama raja Jenaka.Raja Jenaka disamping mempunyai kerajaan yang sangat besar dan kaya juga berkeinginan belajar spiritual (Yoga,semadi) kepada Resi Suka yang sangat terkenal ilmu spiritualnya. Banyak ujian2 yang diberikan kepada para siswanya agar dapat mencapai moksa dalam kehidupan ini dengan meninggalkan keduniawian dengan melepaskan semua keterikatan2 sehingga Atman menyatu dengan Brahman.Pada suatu hari Resi Suka agak terlambat memberikan dharma wecana sehubungan Raja Jenaka ada keperluan kerajaan yang sangat mendesak yang tidak boleh diwakili. Resi Suka dengan sengaja menunggu Raja Jenaka, ingin menguji kesabaran para muridnya apakah dapat mengekang sad ripu sebagai dasar pelajaran Yoga.
Dari pengamatan Resi Suka banyak para muridnya gelisah dan gusar dan kadang2 timbul marah tidak sabar menunggu sampai ada yang protes bahwa pelajaran dimulai saja, mengapa kita di beda2kan orang biasa dengan raja Setelah raja datang dharma wecana baru dimulai dan resi Suka memberikan wejangan, kita harus dapat mengendalikan sad ripu sehingga kita dapat ketenangan bathin. Setelah dharma wecana selesai maka pelajaran dilanjutkan dengan yoga, semadi, dan pelajaran ini harus dilakukan dengan konsentrasi pikiran secara penuh.
Dengan suasana hening sepi hanya suara jengkrik yang kedengaran, para muridnya sedang asyik melakukan yoga semadi, tiba2 Resi dengan berteriak bahwa sedang ada kebakaran di kota kerajaan, murid2nya pada bubar berlari lari pergi ke kota kerajaan ingin menyelamatkan harta dan rumahnya yang kebakaran. Tetapi raja Jenata tidak bergeming sedikitpun, dia telah masuk dalam keadaan Semadi, beliau berbahagia dalam Atman.
Resi mengamati wajah raja dengan perasaan sangat gembira. Setelah beberapa murid2 yang lari kembali bahwa dikota tidak ada kebakaran dan resipun memberikan penjelasan arti dari peristiwa tersebut. Penundaan mulainya dharma wecana adalah untuk menghormati raja, karena beliau telah menghapuskan keakuannnya kebanggaannya dan mempunyai kerendahan hati dan melatih mengendalikan sadripu dan berhasil dengan baik dan ini perlu dicontoh oleh semua muridnya. Dan peristiwa kebakaran di kota kerajaan sebenarnya tidak pernah terjadi, peristiwa kebakaran adalah rekayasa Resi dan ini merupakan ujian dari Resi Suka.Kalau mau berhasil sebagai seorang spiritual (Yogi) harus berani melepaskan semua keduniawian yaitu keterikatan2, tanpa ada kemauan untuk menghilangkan keterikatan2 ini tidak mungkin tercapai tujuannya yaitu sebagai seorang Yogi.
Semua latihan2 ini membutuhkan ketekunan, tulus iklas, kesujudan iman dan tanpa pamerih. Pada akhir2 ini banyak generasi muda sudah melakukan latihan2 Yoga dan Semadi, dan buku2 penuntun untuk yang baru memulai belajar Yoga dan Semadi sudah cukup banyak beredar di toko2 buku, dan suasana ini sangat membantu bagi umat hindu untuk belajar masalah spiritual melalui Raja Marga Yoga.
Diantara keempat Marga Yoga tersebut diatas semuanya adalah sama tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya, umat Hindu dapat memilih dari keempat Marga Yoga tersebut tergantung dari bakat masing2 dan jalan yang satu akan berhubungan dengan yang lain semuanya akan mencapai tujuan yang sama yaitu Moksa.
Penutup.
Menjalankan Spiritual dalam kehidupan sehari hari sering mengalami kendala, banyak pertanyaan2 yang timbul terutama generasi muda, apakah kita melakukan kegiatan spiritual harus mengurangi kegiatan untuk mencari harta yaitu bekerja (karma). Ada juga yang berpendapat bahwa melakukan kegiatan spiritual sebaiknya dilakukan setelah MPP (masa persiapan pensiun) disamping banyak waktu juga tanggung jawab atau kewajiban sudah berkurang. Pada saat bekerja aktif dimana ada suatu jabatan tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan spiritual karena disibukkan dengan pekerjaan2 yang kadang menyimpang dari Dharma akibat tugas yang membutuhkan untuk mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan atasan (manajemen. Pada hal pada saat menjabatlah memanfaatkan kesempatan untuk menegakkan Dharma yaitu kebenaran2, setiap keputusan yang diambil harus menguntungkan masyarakat banyak. Kadang2 banyak orang yang tidak sabar dalam mengumpulkan harta dalam bidang pekerjaannya dengan mengambil jalan pintas yaitu KKN (korupsi, kolusi, nep
otisme), pada hal dalam mengumpulkan harta tidak harus ber KKN banyak jalan atau cara yang ditempuh asal mau sabar dan tetap berlandaskan Dharma. Banyak orang kaya tanpa KKN tetapi mereka berhasil dalam bidang profesinya dan hasil kekayaannya mereka manfaatkan untuk orang banyak dengan mendirikan Yayasan untuk orang yang tidak mampu (fakir miskin) atau mendirikan Sekolah2 yang dapat menunjang Pendidikan bangsa demi masa depan rakyat Indonesia.

Untuk mencapai moksa dapat memilih diantara Catur Marga Yoga apakah melalui Jnana Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Bakti Marga Yoga dan Raja Marga Yoga sesuai dengan kemampuan serta bidang yang digeluti saat ini Pada saat perang Berata Yuda selesai dimana kemenangan berada dipihak Pandawa, semua musuh2 sudah kalah perang tinggal Pendawa yang hidup. Yudistira sebagai pemimpin Pandawa memutuskan pergi kehutan untuk mengasingkan diri dengan maksud mendekatkan diri kehadapan Yang Widhi Wasa dengan Raja Marga Yoga salah satu Catur Marga Yoga. Arjuna sebagai orang yang bijaksana yang mempunyai Visi dan Misi jauh kedepan menganjurkan kepada Prabu Yudistira agar kembali untuk memimpin kerajaan, siapa yang akan memimpin kerajaan, seandai nya semua keluarga Pandawa pergi kehutan, padahal untuk mencapai kemenangan perang Brata Yuda dalam menegakkan Dharma sudah banyak pengorbanan baik jiwa maupun raga, banyak pahlawan2 yang telah berguguran dalam perang.
Untuk mencapai moksa tidak harus pergi kehutan melakukan Semadi, Yoga, didalam kerajaanpun dengan berbuat dan menegakkan kebenaran yaitu Dharma dapat mencapai Moksa.
Keterikatan adalah Moha, kebebasan adalah Moksa, selama kita masih menderita keterikatan, Moksa tidak mungkin dapat dicapai. Kadang2 kita agak sulit melepaskan keterikatan2, dan ini memerlukan latihan2 secara rutin. Untuk mengendalikan Sad Ripu saja tidak mudah, membutuhkan kesabaran dan ketekunan dan kita selalu melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri sampai dimana kita telah melakukan latihan2. Apalagi kita akan melakuan Catur Marga Yoga memang membutuhkan mental yang tangguh tidak mudah menyerah dan kita harus tahu kemampuan kita terutama bakat yang dikarunia oleh Yang Widhi Wasa sehingga dalam melaksanakan salah satu Catur Marga kita tidak mendapat halangan atau kendala sehingga dengan waktu yang relatif singkat kita sudah dapat melakukan dengan sempurna walaupun belum mencapai Moksa tetapi kita sudah rasakan hasilnya.

Oleh: T.G. Putra
Source: http://www.parisada.org 
readmore »»  

Hindu Dharma, Sanàtana Dharma dan Vaidika Dharma

0 komentar

Dalam  upaya memantapkan pandangan kita  terhadap ajaran Hindu Dharma terlebih dahulu kami ingin menekankan kembali nama dan sumber ajaran Hindu atau Hindu Dharma yang kita kenal sebagai satu agama tertua yang masih dianut oleh umat manusia. Hal ini kami pandang sangat perlu mengingat sampai sekarang masih ada pandangan dan buku-buku yang mendiskreditkan agama Hindu dan menganggap agama Hindu sebagai agama yang tidak bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan Prof. Dr. Mukti Ali, sebagai tokoh ahli perbandingan agama di Indonesia pada Kongres Agama-Agama di Indonesia, tanggal 11 Oktober 1993 di Yogyakarta menyatakan bahwa agama Hindu tidak mengenal missi karena dibatasi oleh sistem kasta. Bilama Hindu tidak mengenal missi, bagaimana orang Indonesia di masa yang lalu memeluk agama Hindu?
Siapakah yang menyebarkan agama Hindu ke Indonesia? Selanjutnya tentang kasta adalah bentuk penyimpanan dan interpretasi yang keliru dari pengertian Varna sebagai tersebut dalam kitab suci Veda. Yang dimaksud dengan Varna adalah pilihan profesi sesuai dengan Guóa  (bakat pembawaan orang) dan Karma (kerja yang dia lakoni) oleh setiap orang.
Dipakai nama Hindu Dharma sebagai nama agama Hindu menunjukkan bahwa kata Dharma mempunyai pengertian yang jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian kata agama dalam bahasa Indonesia.  Dalam kontek pembicaraan kita saat ini pengertian Dharma disamakan dengan agama. Jadi agama Hindu sama dengan Hindu Dharma. Kata Hindu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang Persia yang mengadakan komunikasi  dengan  penduduk  di  lembah  sungai  Sindhu dan ketika orang-orang Yunani mengadakan kontak dengan masyarakat di lembah sungai Sindhu mengucapkan Hindu dengan Indoi dan kemudian orang-orang Barat yang  datang kemudian menyebutnya dengan India. Pada mulanya wilayah yang membentang dari lembah sungai Shindu sampai yang kini bernama Srilanka, Pakistan, Bangladesh disebut dengan nama Bhàratavarsa yang disebut juga Jambhudvìpa.   
Kata Sanàtana Dharma   berarti  agama yang bersifat abadi   dan  akan  selalu dipedomani oleh umat manusia sepanjang Nama   asli  dari  agama ini masa, karena ajaran yang disampaikan adalah kebenaran yang bersifat universal, merupakan santapan rohani dan pedoman hidup umat manusia yang tentunya tidak terikat oleh kurun waktu tertentu. Kata Vaidika Dharma berarti ajaran agama yang bersumber pada kitab suci Veda, yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Mahadevan, 1984: 13).
Kitab suci Veda merupakan dasar atau sumber mengalirnya ajaran agama Hindu. Para åûi atau mahàrûi yakni orang-orang suci dan bijaksana di India jaman dahulu telah menyatakan pengalaman-pengalaman spiritual-intuisi mereka (Aparokûa-Anubhuti) di dalam kitab-kitab Upaniûad, pengalaman-pengalaman ini sifatnya langsung dan sempurna. Hindu Dharma memandang pengalaman-pengalaman para mahàrûi di jaman dahulu itu sebagai autoritasnya (sebagai wahyu-Nya). Kebenaran yang tidak ternilai yang telah ditemukan oleh para mahàrûi dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun yang lalu, membentuk kemuliaan Hinduisme, oleh karena itu Hindu Dharma merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa (Sivananda, 1988: 4)
Kebenaran tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa ditegaskan oleh pernyataan yang terdapat dalam kitab Taittiriya Aranyaka 1.9.1 (Dayananda, 1974:LI) maupun maharsi Aupamanyu sebagai yang dikutip oleh mahàrûi Yàûka (Yàskàcarya) di dalam kitab Nirukta II.11 (Loc.Cit). Bagi umat Hindu   kebenaran Veda adalah mutlak, karena merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya Úrì Chandrasekarendra Sarasvati, pimpinan tertinggi Úaýkara-math yakni perguruan dari garis lurus Úrì Úaýkaràcarya menegaskan : Dengan pengertian bahwa Veda merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam atau non human being) maka para maharsi penerima wahyu disebut Mantradraûþaá (mantra draûþaá iti åûiá). Puruûeyaý artinya dari manusia. Bila Veda merupakan karangan manusia maka para maharsi disebut Mantrakarta (karangan/buatan manusia) dan hal ini tidaklah benar. Para maharsi menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Apauruûeyam) melalui kemekaran intuisi (kedalaman dan pengalaman rohani)nya, merealisasikan kebenaran  Veda, bukan dalam pengertian atau mengarang Veda. Apakah artinya ketika seorang mengatakan bahwa Columbus menemukan Amerika ? Bukankah Amerika telah ada ribuan tahun sebelum Columbus lahir? Einstein, Newton atau Thomas Edison dan para penemu lainnya menemukan hukum-hukum alam yang memang telah ada ketika alam semesta diciptakan. Demikian  pula para maharsi diakui sebagai penemu atau penerima wahyu tuhan Yang Maha Esa yang memang telah ada sebelumnya dan karena penemuannya itu mereka dikenal sebagai para maharsi agung. Mantra-mantra Veda telah ada dan senantiasa ada, karena bersifat Anadi-Ananta yakni kekal abadi mengatasi berbagai kurun waktu. Oleh karena kemekaran intuisi yang dilandasi kesucian pribadi mereka, para maharsi mampu menerima mantra Veda. Para mahàrûi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dihubungkan dengan Sùkta (himpunan mantra), Devatà (Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan wahyu) dan Chanda (irama/syair dari mantra Veda). Untuk itu umat Hindu senantiasa memanjatkan doa pemujaan dan penghormatan kepada para Devatà dan maharsi yang menerima wahyu Veda ketika mulai membaca atau merapalkan mantra-mantra Veda (Chandrasekharendra, 1988: 5).
Kitab suci Veda bukanlah sebuah buku sebagai halnya kitab suci dari agama-agama yang lain, melainkan terdiri dari beberapa kitab yang terdiri dari 4 kelompok yaitu kitab-kitab Mantra (Saýhità) yang dikenal dengan Catur Veda (Ågveda, Yajurveda, Sàmaveda atau Atharvaveda). Masing-masing kitab mantra ini memiliki kitab-kitab Bràhmaóa, Àraóyaka dan Upaniûad) yang seluruhnya itu diyakini sebagai wahyu wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang didalam bahasa Sanskerta disebut Úruti. Kata Úruti berarti sabda tuhan Yang Maha Esa yang didengar oleh para maharsi. Pada mulanya wahyu itu direkam melalui kemampuan mengingat dari para maharsi dan selalu disampaikan secara lisan kepada para murid dan pengikutnya, lama kemudian setelah tulisan (huruf) dikenal selanjutnya mantra-mantra Veda itu dituliskan kembali. Seorang maharsi Agung, yakni Vyàsa yang disebut Kåûóadvaipàyaóa dibantu oleh para muridnya menghimpun dan mengkompilasikan mantra-mantra Veda yang terpencar pada berbagai Úàkha, Aúsrama, Gurukula atau Saýpradaya.
Didalam memahami ajaran agama Hindu, disamping kitab suci Veda (Úruti) yakni wahyu Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tertinggi, dikenal pula hiarki sumber ajaran agama Hindu yang lain yang merupakan sumber hukum Hindu adalah Småti (kitab-kitab Dharmaúàstra atau kitab-kitab hukum Hindu), Úìla  (yakni tauladan pada mahàrûi yang termuat dalam berbagai kitab Itihàsa (sejarah) dan Puràóa (sejarah kuno), Àcàra (tradisi yang hidup pada masa yang lalu yang juga dimuat dalam berbagai kitab Itihasa (sejarah) dan Àtmanastuûþi, yakni kesepakatan bersama berdasarkan pertimbangan yang matang dari para maharsi dan orang-orang bijak yang dewasa ini diwakili oleh majelis tertinggi umat Hindu dan di Indonesia disebut Parisada Hindu Dharma Indonesia. Majelis inilah yang berhak mengeluarkan Bhisama (semacam fatwa) bilamana tidak ditemukan sumber atau penjelasannya di dalam sumber-sumber  ajaran Hindu yang kedudukannya lebih tinggi.

Source: http://www.parisada.org/
readmore »»  

Karakteristik Hindu Dharma

0 komentar

Hindu Dharma memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional manusia. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya  terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir, kemerdekaan dari pemikiran, perasaan dan pemikiran manusia. Ia memperkenalkan kebebasan yang paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa, jiwa, penciptaan, bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini. Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan, menyelidiki, mencari dan memikirkannya, oleh karena itu, segala macam keyakinan/Úraddhà, bermacam-macam bentuk pemujaan atau sadhana, bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda, memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya.    
Tentang kemerdekaan memberikan tafsiran terhadap Hindu Dharma di dalam Mahabharata dapat dijumpai sebuah pernyataan : "Bukanlah seorang maharsi (muni) bila tidak memberikan pendapat terhadap apa yang dipahami" (Radhakrishnan, I, 1989: 27). Inilah salah satu ciri atau karakteristik dari Hindu Dharma. Karakteristik atau ciri khas lainnya yang merupakan barikade untuk mencegah berbagai pandangan yang memungkinkan tidak menimbulkan pertentangan di dalam Hindu Dharma adalah Àdikara dan Iûþa atau Iûþadevatà (Morgan, 1987: 5). Àdikara berarti kebebasaan untuk memilih disiplin atau cara tertentu yang sesuai dengan kemampuan dan kesenangannya, sedangkan Iûþa atau Iûþadevatà adalah kebebasan untuk memilih bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang dijelaskan daalam kitab suci dan susatra Hindu, yang ingin dipuja sesuai dengan kemantapan hati.
Svami Sivananda, seorang dokter bedah yang pernah praktek di Malaya (kini Malaysia) kemudian meninggalkan profesinya itu menjadi seorang Yogi besar dan rohaniawan agung pendiri Divine Life Society menyatakan : Hindu Dharma sangatlah universal, bebas, toleran dan luwes. Inilah gaambaran indah tentang Hindu Dharma. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hindu Dharma; tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen, sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. Hal ini adalah wajar. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma; karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah, demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka (1984: 34). 
Sejalan dengan pernyataan ini Max Muller mengatakan bahwa Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas dan Dr.K.M. Sen mengatakan bahwa dengan definisi Hinduisme menimbulkan kesulitan lain. Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tuumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar padaa saat tertentu (Natih: 1994: 116).
Source: http://www.parisada.org/

readmore »»  

History of Hindu

0 komentar

readmore »»  

ASTHANGA YOGA

1 komentar


Yoga merupakan salah satu jalan untuk memperoleh penyatuan dengan Tuhan melalui latihan yang sangat keras dan teratur, sehingga apa yang menjadi tujuan kita tercapai. Yoga bukan merupakan tradisi yang mati, yang kemudian stagnan tanpa perubahan, melainkan selalu berubah dan dieksplorasi oleh para pelakunya, sehingga senantiasa menghasilkan perubahan yang dianggap lebih efektif. Ada banyak aliran dalam yoga, karena yoga bukan merupakan satu kesatuan utuh. Melainkan pendapat dan latihan setiap alirannya berbeda dan tidak dapat didamaikan. Jadi, ketika kita berbicara tentang yoga, artinya kita membicarakan tentang banyak aliran dalam yoga. Satu aliran yang paling senior, terkenal dan berpengaruh adalah aliran Patanjali yang dikenal dengan Raja Yoga. Dan aliran ini yang akan kami bicarakan di sini, karena jika harus menguraikan perdebatan berbagai aliran, akan sangat menyita waktu.
Patanjali, dalam Kita Yoga Sutras, memuat penjelasan tentang delapan aspek yoga yang dikenal dengan ashtanga-yoga. Kedelapan ruas ini, seringkali digambarkan sebagai tangga yang membimbing kehiudpan biasa menuju realisasi Diri dan melampaui personalitas ego.

Delapan jalan menuju ‘penyatuan’ Asthanga-yoga dan Etika dalam ajaran Yoga
Tujuan Yoga ialah untuk mengembalikan Citta[1] itu dalam keadaannya yang semula, yang murni tanpa perubahan, sehingga dengan demikian purusa[2] itu dibebaskan dari kesengsaraannya.[3] Sementara menurut Matius Ali, Tujuan Yoga Patanjali adalah mencapai kebebasan melalui konsentrasi dan Samadhi. Istilah teknis untuk pencapaian ini adalah ‘pembebasan’ (kaivalya). [4] Menurut Sri Aurobindo, Raja-Yoga bertujuan untuk mencapai pembebasan dan penyempurnaan diri mental, yakni pengendalian seluruh perangkat pencerapan, emosi, pikiran dan kesadaran. [5]
Mahārși Patañjalidalam kitab Yoga Sutrasmenyusun ‘8 ruas yoga’ (Asthanga-yoga) sebagai sebuah metode spiritualitas praktis dalam Yoga Sutras (2.29).[6]
1.       Disiplin Moral (Yama)
2.       Disliplin Diri (Niyama)
3.       Postur Tubuh (asana)
4.       Pengendalian Napas (pranayama)
5.       Pengendalian Indera (Pratyahara)
6.       Konsentrasi (Dharana)
7.       Meditasi (Dhyana)
8.       Ekstasis (Samadhi)
Agar purusa itu bisa dilepaskan dari ikatan prakrti[7], orang harus dapat menindas wrtti[8] itu, yaitu dengan meniadakan klesa-klesa. Sebab klesa itu mewujudkan satu fungsi yang menjadi dasar pembentukan karma, yang menimbulkan awidya atau ketidak-tahuan. Di dalam kehidupan kejiwaan manusia, terdapat suatu perputaran yang tidak putus, yaitu perputaran wrtti, kecenderungan-kecenderungan, klesa-klesa, awidya dan seterusnya. Tujuan Yoga ialah untuk mematahkan perputaran yang tidak putus ini, dengan perlahan-lahan meniadakan klesa-klesa dan memberhentikan wrtti. Hal ini hanya dapat diwujudkan melalui usaha (abhyasa) yang terus-menerus dan keadaan tanpa nafsu (wairagya). Manusia dapat melepaskan diri dari nafsu melalui usaha dan latihan yang panjang sehingga dapat membedakan antara pribadi dengan yang bukan pribadi, melalui asthanga-yoga.[9]
Harun Hadiwijono menyusun asthanga-yoga dalam skema sistematis seperti berikut:

                               



















Delapan aspek asthanga-yoga ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu: pertama,mulai dari yama sampai pratyahara disebut pertolongan-pertolongan yang tak langsung atau yang dari luar (bahiranga); dan mulai dari dharana sampai Samadhi, yang disebut pertolongan-pertolongan yang langsung dari dalam (antaranga).[10]
Kedelapan aspek yoga tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, yakni: pertama, sebagai unifikasi kesadaran yang tumbuh; kedua, sebagai pemurnian diri yang progresif. Kedua sudut pandang ini tercermin dalam Yoga-Sutras. [11]
1.       Disiplin Moral atau Pengekangan Diri (Yama)
Definisi Yama yang dijelaskan dalam Yoga Sutras (2.30): “Yama teridiri atas tanpa kekerasan, kebenaran, tidak mencuri, selibat dan ketidak-tamakan (ahimsa satyasteya bramacaryaparigraha yamah). Seperti juga semua spiritualitas otentik, fondasi yoga dibangun atas sebuah etika universal. Karenanya, ruas pertama yoga Patanjali bukanlah postur tubuh atau meditasi, melainkan disiplin moral (yama).[12] Kelima bagian Yama adalah:
a.       Tanpa kekerasan (ahimsa)
Dari semua kewajiban moral, ‘tidak menyakiti’ adalah yang paling utama. Kata ahimsa seringkali diterjemahkan sebagai tidak membunuh, namun ini tidak memberikan arti yang penuh dari kata ahimsa. Dalam Yoga Sutras (2.35), ahimsa didefinisikan sebagai:
“Jika ahimsa sudah dilaksanakan secara mantap, maka semua kebencian akan terhenti.”[13]
Sebenarnya ahimsa adalah ‘tanpa kekerasan’ baik di dalam pikiran maupun dalam tindakan.[14] Ia menjadi dasar dari disiplin yang lain. Keinginan untuk tidak menyakiti yang lain bersumber dari dorongan kea rah unifikasi dan tansendensi sang ego. [15]
b.      Kebenaran (satya)
‘Kebenaran’ (satya) seringkali ditinggalkan dalam literatur etika dan yoga. Karena bagi orang yang sudah menjalankan kebenaran, kejujuran, semua tindakan serta akibatnya akan tunduk padanya. Dalam Yoga Sutras dikatakan bahwa:
“Bagi orang yang sudah menjalankan kebenaran dan kejujuran, semua tindakan serta akibatnya ada di bawah kendali dirinya.”[16]
Satya yaitu jujur baik dalam perkataan maupun dalam pikiran. [17]      
c.       Tidak Mencuri (Asteya)
‘Tidak mencuri’ (asteya) terkait erat dengan ahimsa, karena pemilikan benda berharga secara tidak benar, melanggar hak orang yang ia curi. Menurut Yoga Sutras, asteya dapat didefinisikan:
        “Jika asteya sudah ditanamkan, maka semua kekayaan akan datang.” [18]
d.      Kesucian-Kemurnian atau mengendalikan nafsu jasmani dan nafsu asmara (brahmacarya)
‘Selibat’ (brahmacarya) secara harfiah berarti ‘tingkah laku Brahmana’ merupakan hal penting yang inti dalam kebanyakan tradisi spiritual dunia, walaaupun ditafsirkan secara berbeda. Dalam Yoga Sutras (2.38) Brahmacarya dijelaskan sebagai berikut:
        “Dengan menjalankan brahmacarya, orang mendapatkan kekuatan.” [19]
Dalam sistem Yoga, selibat didefinisikan dalam istilah asketisme yakni menahan diri dari aktivitas seksual, baik dalam perbuatan maupun dalam pikiran. Secara umum, rangsangan seksual dianggap menghambat dorongan ke arah pencerahan.
e.      Ketidaktamakan (Aparigraha)
‘Ketidaktamakan’ (aparigraha) didefinisikan sebagai ‘tidak menerima hadiah’, karena hadiah tersebut menimbulkan keterikatan serta rasa takut akan kehilangan. Jadi, para yogi dianjurkan untuk menumbuhkan kesederhanaan dengan sengaja. Terlalu banyak kepemilikan akan mengganggu pikiran. Penyangkalan diri (renunciation) merupakan sebuah aspek integral dari kehidupan seorang Yogi. Yoga Sutras (2.39) memberikan definisi aparigraha sebagai berikut:
        “jika aparigraha sudah tertanam, maka akan datang sebuah iluminasi menyeluruh tentang bagaimana dan mengapa seseorang dilahirkan.” [20]

Jika diikuasai sepenuhnya, maka masing-masing dari kelima keutamaan dapat membeirkan kekuatan paranormal (siddhi). Sebagai contoh, penguasaan ahimsa akan menciptakan aura kedamaian di sekitar diri sang yogi yang dapat menetralisir semua rasa permusuhan serta penguasaan kebencian.
Melalui kebenaran (satya) seorang praktisi yoga mendapatkan kekuatan dengan selalu mewujudkan kata-katanya. Penguasaan keutamaan ‘tidak mencuri’ (asteya) mendatangkan segala macam harta tanpa usaha yang keras, sedangkan ‘ketidaktamakan’ (aparigraha merupakan kunci untuk memahami kelahiran mereka sekarang, masa depan dan sebelumnya. [21]
2.       Disiplin Diri (Niyama)
Ruas kedua Raja-yoga Patanjali, yakni: ‘disliplin diri’ (niyama), bertujuan untuk mengendalikan energi psiko-fisis yang ditimbulkan dari pengendalian diri kehidupan batin para yogi. Jika kelima disiplin moral (yama) bertujuan mengatur latihan displin yang teratru sebagai unsur konstitutif keselarasan dengan dengan manusia lain, maka kelima aturan ‘disiplin diri’ (niyama) bertujuan menyelaraskan hubungan kelima disiplin diri dengan kehidupan secara menyeluruh dan dengan Realitas Transendental.[22]
Dalam Yoga-Sutras (2.32) Niyama dijelaskan sebagai:
“Niyama terdiri atas kemurnian diri, berpuas diri, askese, studi teks spiritual dan penyerahan diri pada Tuhan.”
Kelima latihan niyama adalah:
1.       Kesucian atau kemurnian (shauca)
‘Kemurnian diri’ (sauca) merupakan kata kunci dalam spiritualitas yoga. Karenanya, tidaklah mengherankan bahwa kemurnian diri termasuk dalam daftar pertama dari kelima disiplin diri. Dalam Yoga Sutras (2.40) dijelaskan:
“Melalui pemurnian diri timbul kemuakan terhadap tubuh sendiri dan terhadap sentuhan dari tubuh yang lain.”[23]
2.       Berpuas Diri (Samtosha)
Berpuas diri artinya tidak menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki. Karena itu, berpuas diri merupakan keutamaan yang bertentangan dengan mentalitas konsumerisme modern yang didorong oleh kebutuhan untuk selalu mendapatkan lebih dari mengisi kekosongan batin. Berpuas diri adalah ungkapan dari penyangkalan diri,  yakni pengorbanan secara sukarela akan apa yang menurut takdir akan diambil dari kita pada saat kematian. Samtosha membuat para yogi mengalami keberhasilan atau kegagalan, susah atau senang dengan ketenangan hati. [24] Dalam Yoga Sutras (2.42) samtosha dijelaskan sebagai:
        “Dengan berpuas diri, kegembiraan tertinggi dicapai”[25]
Di sini, kita harus mengerti perbedaan antara ‘berpuas diri’ (contentment) dengan ‘kepuasan diri’ (satisfaction). Berpuas diri artinya menjadi diri kita seperti apa adanya, tanpa mencari kebahagiaan dari benda-benda di luar. Jika sesuatu datang, kita biarkan ia datang. Jika tidak, ya tidak masalah. Berpuas diri artinya bersikap apa adanya, yakni tidak menyukai dan juga tidak membenci.
3.       Askese (Tapas)
Askese merupakan unsur atau komponen ketiga dari niyama dan mencakup latihan, seperti: berdiri atau duduk diam dalam waktu lama; menahan kelaparan, kehausan serta panas dan dingin, berdiam diri, serta berpuasa. Kata tapas berarti ‘berkilau’, ‘panas’ dan merujuk pada energi psikosomatis yang dihasilkan dari latihan asketisme yang seringkali dialami sebagai rasa panas. Para yogi menggunakan energi ini utuk memanaskan kawah energi tubuh dan pikiran mereka, sampai menghasilkan kesadaran yang lebih luhur.
Dalam Yoga Sutras (3.46) tapas dijelaskan:
“Sebagai hasil latihan samyama akan datang, pencapaian anima serta kekuatan lain, seperti kesempurnaan tubuh, menjadi kebal terhadap umur tertentu” (Y.S. 3.46)
Askese tidak boleh dikacaukan dengan penyiksaan diri. Dalam Bhagavad-Gita (17.14-19), dibedakan tiga macam asketisme, tergantung pada kecenderungan dari ketiga kualitas alam (gunas):
“Penyembahan pada dewa-dewa, terhadap sulinggih, para guru dan orang bijaksan, kesucian, kejujuran, brahmachari, ahimsa, hal-hal ini disebut ujian (tapas) atas tubuh”. (Gita. 17.14)
“Ucapan kata-kata yang tidak menyakitkan hati, bebas dari hinaan, yang mengandung kebenaran, menyenangkan dan bermanfaat dan pengucapan Weda dengan teratur, inilah yang disebut ujian (tapas) dari ucapan” (Gita. 17.15)
“Ketenangan pikiran, kelemah-lembutan, baik hati, pendiam, penguasaan diri, kesucian hati, ini disebut pertapaan pikiran” (Gita. 17.16)
“Ketiga macam pertapaan yang dilakukan dengan kepercayaan yang teguh oleh mereka yang pikirannya kuat untuk tidak menghendaki buahnya, dikatakan sattwika, baik” (Gita. 17.17)
“Pertapaan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kehormatan, dan hanya sebagai pameran belaka, dikatakan Rajasika, dan adalah goyah dan tidak panjang umurnya” (Gita. 17.18)
“Pertapaan yang dilakukan dengan kebodohan, keras kepala dengan jalan penyiksaan diri dan untuk menyakiti orang lain adalah Tamasika, bodoh” (Gita. 17.19)
4.       Studi Teks Spiritual (Svadhyaya)
‘Studi teks spiritual’ merupakan komponen keempat dari niyama yang merupakan latihan yoga yang penting. Kata svadhyayayang dibangun dari kata sva yang berarti ‘sendiri’ dan adhyaya, artinya ‘masuk ke dalam’. Kata ‘studi’ merujuk pada pencarian makna tersembunyi dari teks kitab suci. Tujuan svadhyaya bukanlah sebuah pembelajaran intelektual, melainkan penerapan ke dalam kearifan kuno. Svadhyaya merupakan sebuah renungan meditatif mengenai kebenaran yang dibukakan oleh para Rishi dan arif bijaksana yang telah berjalan ke wilayah di mana pikiran tidak dapat mengikuti serta hanya hati yang menerima. Dalam Yoga Sutras (2.44) dikatakan bahwa:
        “Dengan mempelajari teks-teks spiritual, akan terjadi penyatuan dengan dewa-dewi yang disembah”. [26]
5.       Penyerahan diri pada Tuhan (Ishwara-pranidhana)
Unsur terakhir dari Niyama adalah Ishwara-pranidhana, artinya penyerahan diri secara menyeluruh kepada Tuhan (Ishwara).[27] Dalam Yoga Sutras dijlaskan bahwa:
        “ Melalui penyerahan diri secara menyeluruh, samadhi dicapai”
Ishwara adalah salah satu dari Diri transendental yang satu dan banyak (purusha). Menurut definisi yang diberikan Patanjali, status Ishwara yang luar basa diantara banyak diri disebabkan oleh fakta bahwa Ia tidak akan pernah tunduk pada ilusi yang menghilangkan kemahatahuan serta kemahahadiran-NYa. DIri bebas yang lain, pernah sekali waktu mengalami kehilangan kemahatahuan dan kemaha-hadiran-Nya ketika mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah personalitas egois partikular atau tubuh-pikiran terbatas. Secara inheren, semua diri adalah bebas, namun hanya Ishwara yang sadar akan kebenaran ini.

3.       Postur Tubuh (asana)
Secara harfiah, kata asana berarti ‘dudukan’. Kedua komponen dari ‘delapan ruas yoga’ (ashtanga yoga) Patanjali, yakni yama dan niyama, berfungsi mengatur kehidupan sosial serta personal para praktisi yoga. Yama dan niyama adalah sebuah usaha untuk mengurangi terjadinya keinginan serta tindakan tidak baik, sehingga tidak menambah timbunan karma buruk yang baru dalam kehidupan ini.
Tujuan dari latihan yama dan niyama adalah untuk menghilangkan semua karma, yaitu semua penyebab subliminal yang tertanam di dalam jiwa (psyche). Untuk mewujudkan sebuah transformasi kesadaran, seorang yogi harus menciptakan kondisi lingkungan yang benar, baik di dalam maupun di luar diri. Yama-niyama merupakan langkah awal untuk untuk menciptakan kondisi lingkungan yang benar, sedangkan latihan berbagai postur tubuh (asanas) adalah sebuah usaha untuk mengangkat tubuh ke tahap berikutnya. Secara esensial, asanas adalah sebuah latihan untuk memurnikan dan mendiamkan tubuh fisik. Dalam Yoga Sutras (2.46), dikatakan bahwa:
                “Postur tubuh haruslah dalam kondisi stabil dan enak”.
Dengan melipat anggota tubuhnya, para yogi segera mencapai perubahan suasana dan ketenangan dalam batin. Ketenangan ini membantu untuk mempermudah proses konsentrasi pikiran.
Sekelompok asanas membentuk semacam ‘simbol’ (mudras) yang memiliki makna simbolis. Bentuk mudras ini memilki potensi kuat untuk mengubah kondisi sang yogi, karena mempengaruhi sistem kerja kelenjar endokrin tubuh. Namun melalui latihan yang teratur, praktisi yoga akan dapat menemukan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari asana tertentu. Menurut Patanjali, latihan asanas yang teratur dan benarakan menghilangkan sensitifitas terhadap dualisme ganda, seperti: panas dan dingin, terang dan gelap, hening dan ribut.

4.       Pengendalian Napas (pranayama)
Kata prana berarti ‘daya hidup’ (life force), ‘vitalitas’. Kata prana seringkali diterjemahkan sebagai ‘napas’ (breath) dan ‘hidup’ (life), padahal sebenarnya napas merupakan sebuah manifestasi luar dari prana, yakni daya hidpu yang menembus serta menopang semua kehidupan. Pranayama merupakan komponen ke-empat dari ‘delapan ruas yoga’ Patanjali.
‘Seluruh petualangan yoga berpuasa pada pengolahan prana’. Ini menunjukkan pentingnya pranayama dalam proses yoga.
Teknik pranayama adalah sebuah cara sistematis yang dikembangkan oleh para yogi untuk untuk mempengaruhi medan bioenergi tubuh. Bahkan latihan disiplin moral (yama), pengendalian diri (niyama), pengendalian indera (pratyahara) dan konsentrasi mental (dharana), juga merupakan bentuk manipulasi daya prana. Dalam budaya lain, ide tentang bioenergi prana dikenal sebagai chi di Tiongkok dan mana di dalam tradisi Polinesia. Para peneliti modern menyebutnya sebagai energi bioplasma. Para praktisi yoga mengetahui bahwa ada hubungan antara prana, napas, emosi dan pikiran.
Dalam Yoga Sutras (2.49) dikatakan bahwa:
                “Setelah menguasai asanas, kita harus melatih keluar masuknya napas”. [28]

5.       Pengendalian Indera (Pratyahara)
Latihan asana dan pranayama menghasilkan sebuah dsensitifikasi yang akan menghentikan ransangan dari luar diri sang yogi. Kemudian secara berangsur sang yogi dapat hidup dalam lingkungan batin pikirannya sendiri. Jika kesadaran sudah bisa secara berangsur sang yogi dapat hidup dalam lingkungan batin pikirannya sendiri. Jika kesadaran sudah bisa secara efektif membebaskan diri dari pengaruh lingkungan luar, maka kondisi tersebut pratyahara. Dalam Mahabharata (12.194.58) dikatakan tentang pratyahara:
“Sang Diri (self) tidak dapat ditangkap dengan indera yang kacau, terpecah-belah dan terpencar dan sulit untuk dikenalikan bagi orang  yang belum siap” (Mahabharata 12.194.58)
Dan dalam Yoga Sutras (2.54), pengendalian indera-indera (pratyahara) dijelaskan sebagai:
“JIka indera-indera menarik diri dari objek (benda-benda) dan meniru seolah-olah memiliki kodrat materi pikiran, maka inilah yang disebut pratyahara”. [29]

6.       Konsentrasi (Dharana)
‘Konsentrasi’ merupakan proses lanjutan dari pratyahara. Konsentrasi adalah komponen keenam dari ashtanga-yoga Patanjali. Konsentrasi dapat didefinisikan sebagai ‘memfokuskan perhatian pada satu tempat tertentu’ (desha). Tempat (locus) tersebut dapat merupakan bagian tertentu dari tubuh, serpeti cakra atau objek eksternal yang diinternalisasikan seperti imaji seorang dewa-dewi. Istilah yang dipakai oleh Patanjali untuk ‘konsentrasi’ adalah dharana.
Dalam Yoga Sutras (2.53), dharana dijelaskan sebagai berikut:
                “Dan pikiran sudah siap untuk konsentrasi”.
                “Dharana adalah memfokuskan pikiran pada satu tempat, objek atau ide”. (Y.S. 3.1)
7.       Meditasi (Dhyana)
Konsentrasi yang diperpanjang serta mendalam, secara alami akan membimbing seseorang ke kondisi yang disebut ‘meditasi’ (dhyana). Dalam meditasi, objek atau locus yang diinternalisasikan mengisi seluruh ruang kesadaran. Jika dalam ‘konsentrasi’ mekanisme utama adalah ‘keterfokusan perhatian’, maka dalam ‘meditasi’ mekanisme yang mendasari proses ini adalah ‘kemengaliran yang tunggal’ (ekatanata). [30]
Kondisi meditasi tidak menghilangkan kejernihan pikiran, malah sebaliknya ia memperkuat ke-sadar-an, walaupun memang tidak ada atau terdapat sedikit sekali kesadaran akan lingkungan eksternal. Tujuan awal meditasi dalam yoga adalah untuk menahan, menekan, serta menghentikan modifikasi pikiran (cittas-vritti-nirodhah). Aktivitas mental tersebut meliputi lima kategori:
1.       Pramana      : pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi, penyimpulan atau bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, seperti teks kitab suci.
2.       Viparyaya    : Kesalahpahaman, pengertian yang keliru.
3.       Vikalpa         : pengetahuan konseptual, imajinasi.
4.       Nidra             : tidur
5.       Smriti            : Ingatan.
Dalam kondisi identifikasi dengan Diri (self), unsur pengaktif yang menyebabkan eksternalisasi kesadaran dicabut. Ingatan memiliki dua aspek, yakni aspek kasar dan aspek halus. Aspek kasar dari ingatan dapat dilumpuhkan melalui meditasi, sedangkan aspek halusnya dapat dinetralkan melalui samadhi suprasadar. Ada 3 tahap proses ‘penghentian’ (nirodha), yakni:
a.       Vritti-nidrodha          : penghentian kelima kategori aktivitas mental kasar dalam meditasi.
b.      Pratyaya-nirodha    : penghentian ide (pratyaya) yang muncul dalam berbagai jenis samadhi sadar (samprajnata-samadhi). Para yogi harus dapat mengatasi pikiran yang mucnul secara spontan dalam kondisi savitarka-samapatti[31]. Para yogi juga harus mampu melampaui rasa bahagia (ananda) dalam kondisi ananda-samapatti
c.       Samskara-nirodha  : penghentian unsur pengaktif batin dalam kondisi samadhi suprasadar (asamprajnata-samadhi). Dalam kondisi asmprajnata-samadhi, sang yogi melumpuhkan ingatan batin dengan potensi laten (vasana), yang selalu menghasilkan aktivita spsikomental baru.
Masalah penghancuran samskara dijelaskan dalam Yoga Sutras (1.50)
        “Kesan (impresi) yang dihasilkan melalui samadhi akan menghapuskan semua kesan-kesan lainnya.”[32]

8.       Ekstasis (Samadhi)
Pada bagian konsentrasi dan meditasi, sudah dijelaskan bahwa konsentrasi (dharana) mengarah pada meditasi (dhyana). Kemudian kita akan mleihat bahwa meditasi (dhyana) mengarah pada penyatuan (samadhi). Kondisi samadhi dapat tercapai jika semua modifikasi (vritti) dalam kesadaran bangun sudah dihentikan melalui latihan meditasi.  Karena itu, konsentrasi, meditasi dan penyatuan merupakan tiga fase dari satu proses yang berkesinambungan (samyama). Yoga Sutras memberikan (3.3) memberikan definisi samadhi sebagai:
“samadhi adalah kondisi meditasi yang sama, dimana hanya ada objek saja, seolah tidak ada bentuknya”.[33]
Samadhi adalah suatu kondisi puncak yang dicapai melalui sebuah proses disiplin mental yang panjang dan sulit.

Etika Yoga
Secara umum, konsep etika dalam Yoga termasuk dalam latihan yama dan niyama, yaitu disiplin moral dan disiplin diri. Aturan-aturan yang ada dalam yama dan niyama, juga berfungsi sebagai kontrol sosial dalam mengatur moral manusia. Akan tetapi, dalam bukunya Tattwa Darsana, I Gede Rudia menjelaskan bahwa etika dalam yoga adalah sebagai berikut.
Dalam samadhi, seorang Yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tidak tersentuh oleh suara-suara yang tak henti-hentinya, yang berasal dari luar dan pikiran kehilangan fungsinya, di mana indera-indera terserap ke dalam pikiran. Apabila semua perubahan pikiran terkendalikan, si pengamat atau Purusa, terhenti dalam dirinya sendiri dan di dalam Yoga-Sutra Patanjali disebut sebagai Svarupa Avasthanam (kedudukan dalam diri seseorang yang sesungguhnya).[34]
Dalam filsafat Yoga, maka yoga berarti penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Ada lima keadaan pikiran itu. Keadaaan pikiran itu ditentukan oleh intensitas sattwa, rajas dan tamas. Kelima keadaaan pikiran itu adalah:
1.       Ksipta artinya tidak diam-diam
Dalam keadaan pikiran itu diombang-ambingkan oleh rajas dan tamas, dan ditarik-tarik oleh objek indriya dan sarana-sarana untuk mencapaInya, pikiran melompat-lompat dari satu objek ke objek yang lain tanpa terhenti pada satu objek. [35]
2.       Mudha artinya lamban dan malas
Ini idsebabkan oleh pengaruh tamas yang menguasai alam pikiran. Akibatnya orang yang alam  pikirannya demikian cenderung bodoh, senang tidur dan sebagainya.
3.       Wiksipta artinya bingung, kacau.
Hal ini disebabkan oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini , pikiran mempu mewujudkan semua objek dan mengarahkannya pada kebajikan, pengetahuan, dan sebagainya. Ini merupakan tahap  pemusatan pikiran pada suatu objek, namun sifatnya sementara, sebab akan disusul lagi oleh kekuatan pikiran.
4.       Ekarga artinya terpusat.
Di sini, Citta terhapus dari cemarnya rajas sehingga sattva lah yang menguasai pikiran. Ini merupakan awal pemusatan pikiran pada suatu objek yang memungkinkan ia mengetahui alamnya yang sejati sebagai persiapan untuk menghentikan perubahan-perubahan pikiran.
5.       Niruddha artinya terkendali
Dalam tahap ini, berhentilah semua kegiatan pikiran, hanya ketenanganlah yang ada.
Ekagra dan Niruddha merupakan persiapan dan bantuan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu kelepasan. Ekagra bila dapat berlangsung terus menerus, maka disebut samprajna-yoga atau meditasi yang dalam, yang padanya ada perenungan kesadaran akan suatu objek yang terang.
Tingkatan Niruddha juga disebut asaniprajnata-yoga, karena semua perubahan dan kegoncangan pikiran terhenti, tiada satu pun diketahui oleh pikiran lagi. Dalam keadaan demikian, tidak ada riak-riak gelombang kecil sekali pun dalam permukaan alam pikiran atau citta itu. Inilah yang dinamakan orang samadhi yoga. [36]
Ada empat macam samparjnana-yoga menurut jenis objek renungannya. Keempat jenis itu adalah:
1.       Sawitarka ialah apabila pikiran dipusatkan pada suatu objek benda kasar seperti arca dewa atau dewi.
2.       Sawicara ialah bila pikiran dipusatkan pada objek yang halus yang tidak nyata seperti tanmantra.
3.       Sananda, ialah bila pikiran dipusatkan pada suatu objek yang halus seperti rasa indriya.
4.       Sasmita, ialah bila pikiran dipusatkan pada asmita, yaitu anasir rasa aku yang biasanya roh menyamakan dirinya dengan ini. [37]

Tuhan dalam Ajaran Yoga
Patanjali menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha ada. Tuhan adalah purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas dari Karma, Karmaphala dan impresi-impresi yang bersifat laten.
Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari dunia material ini.
Tujuan dan aspirasi manusia bukanlah bersatu dengan Tuhan, tetapi pemisahan yang tegas antara Purusan dan Prakrti (SR, hal371). Hanya satu Tuhan. Menurut Vijnanabhisu:
“dari semua jenis kesadaran meditasi, bermeditasi kepada kepribadian Tuhan adalah meditasi yang tertinggi. (SR, 372) Ada bebagai obyek yang dijadikan sebagai pemusatan meditasi yaitu bermeditasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, bermeditasi kepada suatu tempat yang ada pada tubuh kita sendiri dan yang tertinggi adalah bermeditasi yang di pusatkan kepada Tuhan.
Kebodohan menyatakan bahwa ada dualisme dari satu realitas yang disebut Tuhan. Ketika kebodohan dihilangkan oleh pengetahuan maka dualisme hilang dan kesatuan penuh akan dicapai. Ketika seseorang mengatasi kebodohan maka dualisme hilang maka ia menyatu dengan The Perfect Single Being tetapi kesempurnaan The Single Being itu selalu ada dan tetap tersisa sebagai sesuatu yang sempurna dan satu. Tak ada perubahan dalam lautan, seberapa banyakpun sungai-sungai yang mengalirkan airnya dan bermuara padanya. Ketidak berubahan adalah keadaan dasar dari kesempurnaan.

Kesimpulan
Filasafat yoga merupakan salah satu aliran filsafat dalam agama Hindu yang membahas tentang latihan, baik fisik maupun mental, yang keras dan serius, agar dapat memperoleh apa yang disebut dengan Transendensi Diri. Dalam yoga, dipercaya ada 8 tingkatan untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu: Disiplin moral (yama), disiplin diri (niyama), Postur Tubuh (asana), Pengendalian Napas (pranayama),  Pengendalian Indera (Pratyahara), Konsentrasi (Dharana), Meditasi (Dhyana), Ekstasis (Samadhi)
Sistem etika yang  terdapat dalam agama Hindu, diatur dalam 2 tingkatan pertama, yaitu Disiplin moral dan Disiplin diri. Yang dibagi menjadi sepuluh aturan: lima aturan pertama merupakan aturan yama, dan lima yang lain merupakan aturan niyama. Disiplin Moral atau Pengekangan Diri (Yama) terdiri atas: Tanpa kekerasan (ahimsa), Kebenaran (satya), Tidak Mencuri (Asteya), Kesucian-Kemurnian atau mengendalikan nafsu jasmani dan nafsu asmara (brahmacarya), Ketidaktamakan (Aparigraha). Sementara Disiplin Diri (Niyama) terdiri dari: Kesucian atau kemurnian (shauca), Berpuas Diri (Samtosha), Askese (Tapas), Studi Teks Spiritual (Svadhyaya), Penyerahan diri pada Tuhan (Ishwara-pranidhana).
Konsep Tuhan dalam agama Hindu, Patanjali menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha ada. Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari dunia material ini.


DAFTAR PUSTAKA

·         Adiputra, I Gede, Rudia, dkk. Tattwa Darsana. Jakarta : Yayasan Dharma Sharati, 1990.
·         Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme & Buddhisme. Tangerang : Sanggar Luxor, 2010.
·         Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India. Jakarta : Badan Penerbit Kristen, 1971.
·         Maswinara, I Wayan. Sistem Filsafat Hindu (Sarva Darsana Samgraha), Surabaya : Paramita, 2006.



[1] Citta adalah konsespsi yang paling penting dalam sistem yoga. Dianggap sebagai hasil pertama dari perkembangan Prakrti (Alam dunia), yang meliputi Ahamkara dan Manas. Sehingga yang dimaksud dengan ialah gabungan buddhi, ahamkara, dan manas. Di dalam citta ini, purusa (Jenis kebenaran tertinggi/ roh), lihat Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal. 51: Adiputra, I Gede Rudia. Tattwa Darsana, hal.59
[2]Purusa adalah
[3] Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal, 51
[4] Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, hal. 59
[5] Ali, Matius. Ibid. lihat juga: Aurobindo, Sri. The Synthesis of Yoga, hal 30-31
[6] Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, hal. 63, lihat juga Grimes, J. A Concise Dictionary of Indian Philosophy, hal. 64; Yogendra, J & Vaz, J. Clement (eds.), Yoga Today, tanpa hal., sesudah daftar isi.
[7]Prakrti adalah
[8]Wrrti adalah
[9] Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal. 51
[10] Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India, hal. 52
[11] Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, hal. 64
[12] Ali, Matius. Ibid, hal. 65
[13] Ali, Matius. Ibid, hal.65; Satchidananda, S.Swami. The Yoga Sutras of Patanjali, hal. 130
[14] Maswinara, I Wayan. Sistem Filsafat Hindu, hal. 165
[15] Ali, Matius. Ibid, hal. 65; Feuerstein, G. The Yoga Tradition, hal. 325
[17]Adiputra, I GedeRudiadkk.TattwaDarsana. Hal. 62
[18]Ali, Matius. Ibid, hal. 66
[19]Ali, Matius. Ibid, hal. 66
[20]Ali, Matius. Ibid, hal. 67
[21]Ali, Matius. Ibid, hal 67
[22]Ali, Mukti. Filsafat India: SebuahPengantarHinduismedanBuddhisme, hal. 68
[23]Ali, Mukti. Ibid, hal. 69
[24]Ali, Mukti. Ibid, hal. 70; Feuerstein, G. The Yoga Tradition, hal. 327
[25]Satchidananda, S. Swami. The Yoga Sutras of Patanjali, hal. 146
[26]Ali, Mukti. Filsafat India: SebuahPengantarHinduismedanBuddhisme, hal. 72
[27]Ali, MUkti. Ibid, hal. 72
[28] Ali, Mukti. Filsafat India: Sebuah Pengantar HInduisme dan Buddhisme, hal.79
[29] Ali, Mukti. Ibid, hal.79
[30] Ali, Mukti. Ibid, hal.82
[31] Samapatti adalah pencapaian, kondisi manunggal dengan objek, saran dan subjek kesadaran dalam meditasi; savitarka berarti suatu jenis penyatuan (Samadhi) dimana pikiran terkonsentrasi pada objek dan menginganama serta kualitasnya.
[32] Ali, Mukti. Ibid, hal. 83-84
[33] Ali, Mukti. Ibid, hal. 84
[34]Maswinara, I Wayan.SistemFIlsafat Hindu, hal. 167
[35]Adiputra, I GedeRudia, TattwaDarsana, hal 60.
[36]Adiputra, I GedeRudia.Ibid, hal. 60-61
[37]Adiputra, I GedeRudia.TattwaDarsana, hal. 61; lihatjugaMaswinara, I Wayan.SistemFilsafat Hindu, hal. 167
readmore »»  

Popular Posts